Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts
Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts

Tuesday, 2 September 2014

Perkembangan Emosi Pada Bayi, Seperti Apa?

Perkembangan Emosi Pada Bayi, Seperti Apa?


Sering, kan, melihat bayi menangis kala ia lapar. Sebelum diberikan susu, ia tak akan berhenti menangis, bahkan tambah keras. Tapi bila kebutuhannya segera dipenuhi, akan berhenti tangisnya.

Nah, menangis pada bayi, selain sebagai salah satu bentuk komunikasi prabicara untuk memberitahukan kebutuhan/keinginannya, juga untuk menunjukkan reaksi emosinya terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan. Reaksi emosi bayi yang demikian, sebetulnya masih wajar, karena si bayi bereaksi terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan, yaitu lapar. "Hanya saja, kalau reaksinya berlebihan, semisal menangis terus, meski sudah diberikan susu, berarti ada sesuatu pada dirinya. Apakah dia sakit atau ada suatu kelainan pada sarafnya,".

Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya. Sebab, reaksi emosinya ini akan berpengaruh pula nantinya pada kehidupan si anak, terutama pada penyesuaian pribadi dan sosialnya. "Di usia satu tahun pertama ini, bayi sedang beradaptasi dengan udara, makanan, dan lingkungan sekitarnya. Di usia ini pulalah emosinya mulai berkembang." Itulah mengapa, orang tua harus memperhatikan betul kebutuhan fisik dan mentalnya, sampai sekecil apa pun.


Pada awalnya, saat lahir, reaksi emosi bayi masih sederhana, yaitu hanya mengungkapkan emosi kesenangan dan ketidaksenangan. "Ia akan bereaksi senang bila kebutuhan menyusunya terpenuhi, dengan mengeluarkan suara yang tampak puas. Sebaliknya, ia akan bereaksi tak senang dengan menangis bila popoknya basah." Yang pasti, pada bulan-bulan pertama, ia tak memperlihatkan reaksi secara jelas, yang menyatakan keadaan emosinya yang spesifik. Misal, marah. Semua rasa ketidaksenangan akan diekspresikan dengan tangisan.

"Nah, pada bulan-bulan pertama ini, respon orang tua terhadap bayi pun akan berpengaruh nantinya. Misal, jika pemberian susunya terlambat sementara bayi sangat lapar atau popoknya basah didiamkan saja, maka bayi akan merasa tak nyaman. Meski dia hanya bisa bereaksi dengan menangis, tapi bibit-bibit emosi rasa kecewa dan marah mulai timbul."
Mulai usia dua bulan bayi bisa bereaksi tersenyum bila dirinya merasa senang atau gembira. Usia tiga bulan mulai bisa bereaksi dengan mengeluarkan bunyi-bunyi yang mengungkapkan kekesalan, bila dirinya kesal atau marah, semisal, dia tak bias menggapai mainannya. Kadang juga diungkapkan dengan tangisan dan jeritan.
Usia 6-9 bulan sudah mengenal rasa takut. Bukankah saat itu ia sudah mengenal orang- orang di sekitarnya? Hingga, kalau ia ditinggal oleh orang tuanya, ia akan merasa takut dan mulai mengeluarkan suara-suara ketakutan atau menangis.

"Pokoknya, makin usia bayi meningkat, reaksi emosinya makin dapat dibedakan dan bertambah. Sebab, sejalan dengan bertambahnya umur dan semakin matangnya system saraf serta ototnya, bayi pun mengembangkan berbagai reaksi emosinya." Misal, kalau di usia 2 bulan emosi kegembiraannya diungkapkan dengan tersenyum saja, maka makin lama dia bisa mengekspresikan kegembiraannya dengan mengeluarkan suara-suara ataupun tertawa kala diajak bicara oleh orang tuanya. Bahkan, ketika dia sudah bisa jalan dan berlari, bila ada timbul rasa gembira, dia bisa melonjak-lonjak atau berlari-lari.

Demikian pula dengan emosi takut. Biasanya bayi takut dengan kamar gelap, binatang, berada sendirian, serta orang yang asing baginya. Mungkin awalnya, kalau takut ia hanya bereaksi dengan menangis. Seolah dirinya tak berdaya dan seperti meminta tolong. Makin bertambah usia dan motoriknya pun berkembang, ia bisa bersembunyi di balik tubuh ibunya atau memeluk ibunya, menarik selimut untuk menutupi wajahnya, atau berlari menghindar dari sesuatu yang membuatnya takut.

Akan halnya rasa marah, misal, di usia 6 -9 bulan, kala bayi sudah bisa melempar benda atau menghentak-hentak kakinya, ketika emosi marahnya terangsang, bisa saja reaksinya dengan melempar. Ketika reaksi tersebut dirasa menyenangkan dan dapat memuaskan emosinya, maka akan diulang kembali. "Nah, untuk mengetahui apakah si bayi memang betul-betul dalam emosi marah atau hanya ingin mencoba-coba melempar benda dalam arti dirinya sedang bereksplorasi, tentunya orang tua harus melihat, apakah memang ada kebutuhannya yang tak dipenuhi atau ada sesuatu yang membuatnya marah ataukah tidak."

MASIH BISA DIUBAH
Jadi, orang tua harus mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya, entah yang baik maupun tidak. Jangan sampai, reaksi emosi yang jelek berlanjut sampai si bayi besar. Pasalnya, nanti anak akan belajar menggunakan reaksi ini sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Apalagi di masa-masa emosi sulit, yaitu usia 0 hingga balita. Bukankah tak jarang kita lihat, anak kecil yang kalau marah tiduran di lantai, duduk menghentak kaki, memukul, atau melempar segala macam benda?

"Sebetulnya, bila baru berusia sampai setahun, emosi bayi masih bisa berubah karena baru muncul dan baru akan berkembang,". Itulah mengapa, orang tua harus tetap waspada dengan emosi bayinya. "Jika ada reaksi emosinya yang kurang baik, paling tidak, kita bisa menekannya atau meminimalkannya." Dengan kata lain, orang tua harus melatih pengendalian diri anak sejak dini.

Tapi melatihnya harus dengan konsekuen, lo. Misal, bila bayi ingin minum susu dan menangis tak sabar, maka ibu harus segera meresponnya. Kalaupun harus membuatkan dulu susu botol, maka buatlah di dekat si bayi sambil mengajaknya bicara. Misal, "Iya, sabar, ya, sayang. Ini Ibu sedang buatkan susunya. Ibu tahu, kok, kalau Adek lapar."
Bila si bayi sudah bisa merangkak dan kita lihat tampaknya dia kesal karena sulit menggapai mainan yang diinginkan, maka kita bantu untuk memudahkan dengan cara mainannya didekatkan. Ketika dia sudah bisa meraihnya, kita beri pujian, "Hore! Pintar anak Mama. Capek, ya? Ayo, kita duduk dulu."

Begitu juga kalau si bayi sudah mulai banyak motoriknya, seperti bisa jalan atau lari. Bila reaksi marahnya dengan cara fisik, seperti menendang, melempar, atau memukul, maka kita harus selalu memberi pengertian. "Kalau kamu marah, tidak boleh seperti itu. Nanti kaki kamu jadi sakit kalau menendang kursi itu. Kenapa kamu marah? Bilang, dong, sama Ibu." Jadi, anak dilatih untuk dapat mengendalikan fisiknya. Hingga nantinya kalaupun dia marah, mungkin tak sampai bereaksi berbahaya dengan fisiknya.
Mungkin hanya mimik mukanya saja yang tampak memerah. Biasanya seiring usia bertambah, reaksi emosi dengan menggunakan gerak fisik/otot makin berkurang. Apalagi ketika anak sudah bisa bicara, maka reaksi emosinya akan diwujudkan dengan reaksi bahasa yang meningkat.

JANGAN BANYAK MELARANG

Namun, dalam melatih atau mendidik emosi anak, disarankan tak banyak larangan karena akan menimbulkan rasa takut pada anak. Misal, "Adek, jangan main ke situ, ada kecoa, lo. Nanti digigit!" Sebetulnya, usia bayi belum menyadari ada tidaknya bahaya bagi dirinya, tapi karena mimik muka ibunya dan nada suaranya menakutkan, maka mengkondisikan si bayi akan rasa takut. "Larangan boleh saja kalau memang ada yang membahayakan. Kalau tidak, sebaiknya dihindari." Namun, dalam memberitahukannya harus dengan bahasa dan mimik muka yang baik.

Yang jelas, bila sejak bayi dilatih pengendalian emosi dengan baik, maka reaksi emosinya bisa ditanganinya dengan baik pula. Meski mungkin sifat jeleknya tetap ada, tapi tak terlalu menonjol. "Jadi, ini merupakan tindak pencegahan pula dari reaksi emosi negatif yang tak diinginkan." Ingat, lo, bila tak sejak dini kita melatihnya, maka akan sulit mengubahnya ketika anak bertambah usianya. Bahkan mungkin saja reaksi emosi tersebut akan menetap sampai si anak dewasa. Tentunya kita tak menginginkannya demikian, kan, Bu-Pak?

Monday, 25 August 2014

Agar Anak Cerdas Sejak Dalam Kandungan

Bicara tentang kecerdasan, tentu saja tidak bisa lepas dari masalah kualitas otak, sedangkan kualitas otak itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Secara prinsip, perkembangan positif kecerdasan sejak dalam kandungan itu bisa terjadi dengan memperhatikan banyak hal. Pertama, kebutuhan-kebutuhan biologis (fisik) berupa nutrisi bagi ibu hamil harus benar-benar terpenuhi. Seorang ibu hamil, gizinya harus cukup. Artinya, asupan protein, karbohidrat, dan mineralnya terpenuhi dengan baik. Selain itu, seorang ibu hamil tidak menderita penyakit yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungannya. Kebutuhan nutrisi itu sendiri, sebenarnya bukan hanya ketika ibu mengandung, melainkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus memperhatikan gizi, makanan, dan komposisi nutrisinya harus lengkap, sehingga ketika ia hamil, dari segi fisik sudah siap dan proses kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.


nutrisi untuk otak calon bayi agar pintar
Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya—boleh dikatakan sangat jarang ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Malah, kerap kehamilan dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anak- anak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.


agar anak cerdas pintar sejak dalam kandungan
Faktor kedua adalah kebutuhan kasih sayang. Seorang ibu harus menerima kehamilan itu, dalam arti kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan optimal. "Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima risiko dari kehamilannya," kata mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Anak Indonesia itu. "Risiko itu, misalnya, seorang wanita karier yang hamil, merasa terbebani dan khawatir akan mengganggu pekerjaannya. Ia sebenarnya ingin hamil, tapi juga merasa terganggu dengan kehamilannya itu. Kondisi seperti ini tidak kondusif untuk merangsang perkembangan bayi dalam kandungannya," tambahnya.
Selain itu, menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, ada faktor psikologis yang memengaruhi perkembangan kecerdasan bayi, yaitu apakah si ibu hamil menikah secara resmi atau kawin lari. Pernikahannya direstui atau tidak, dan apakah ada komitmen antara istri dan suami. Tanpa komitmen di antara keduanya, kehamilan itu bisa dianggap mengganggu.
Juga harus ada support (dukungan). Tanpa support, walaupun ada komitmen dari suami dan orang tua dapat mengurangi perkembangan dan rangsangan kecerdasan bayi dalam kandungan. "Jadi, variabel kasih sayang tadi adalah komitmen dengan suami, serta support dari orang tua dan keluarga, sehingga seorang ibu dapat menerima kehamilannya dengan hati tenteram,"
Faktor ketiga adalah adanya perhatian penuh dari si ibu hamil terhadap kandungannya. Ia dapat memberikan rangsangan dan sentuhan secara sengaja kepada bayi dalam kandungannya. Karena secara emosional akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang, dalam darahnya akan melepaskan neo transmitter zat-zat rasa senang, sehingga bayi dalam kandungannya juga akan merasa senang.
Sebaliknya, bila si ibu selalu merasa tertekan, terbebani, gelisah, dan stres, ia akan melepaskan zat-zat dalam darahnya yang mengandung rasa tidak nyaman tersebut, sehingga secara tidak sadar bayi akan terstimuli juga ikut gelisah. "Yang paling baik adalah stimuli berupa suara-suara, elusan, dan nyanyian yang disukai si ibu. Hal ini akan merangsang bayi untuk ikut senang. Berbeda jika si ibu melakukan hal-hal yang tidak disukainya, karena itu sama saja memberikan rangsangan negatif pada bayi". Tapi, stimuli itu sendiri lebih efektif bila kehamilan sudah menginjak usia di atas enam bulan. Sebab, pada usia tersebut jaringan struktur otak pada bayi sudah mulai bisa berfungsi. 
Untuk mendapatkan kondisi-kondisi itulah, seorang ibu hamil harus tetap menjaga nutrisi yang didapat dari makanan sehari-hari. Bahkan, perlu diimunisasi, misalnya dengan suntik TT. Lakukan juga konsultasi rutin dengan dokter secara berkala. Mula- mula sekali sebulan, dan pada bulan terakhir menjelang kelahiran (partus), diperketat menjadi tiga minggu sekali, lalu dua minggu sekali, dan bahkan mendekati partus menjadi setiap minggu.
Juga disarankan untuk tidak meminum obat-obatan yang katanya bisa merangsang perkembangan dan kecerdasan otak bayi. Obat-obatan semacam itu hanya omong kosong. "Pemberian obat semacam itu percuma saja, dan tidak berpengaruh apa-apa," katanya. "Yang penting, ciptakan saja lingkungan mendidik, yaitu tiga faktor tadi.
Sementara itu, psikolog anak lainnya juga mengungkapkan pendapat yang sama. Stimulasi positif, menurutnya, memang dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Dari stimulasi ini, diharapkan ketika anak tumbuh, bukan hanya menjadi cerdas, melainkan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. "Stimulasi menimbulkan kedekatan antara ibu dan anak.
Bahkan, lanjut Surastuti, bayi masih dalam kandungan bisa distimuli dengan diperdengarkan musik klasik, diajak berbicara, dan diberikan elusan penuh kasih sayang. Orang tua juga harus siap dan berusaha mengajarkan cara anaknya bersosialisasi dengan dunia luar ketika ia masih di dalam rahim. Tapi, mengapa musik klasik? Pendapat semacam ini memang terus menjadi topik bahasan. Musikus hebat seperti Adhi MS, pimpinan Twilite Orchestra, juga meyakini musik klasik dapat merangsang kecerdasan bayi sejak dalam kandungan. Bahkan, untuk jenis musik yang 'merangsang bayi' ini sudah banyak dijual di toko-toko kaset tertentu.
Tapi, untuk lebih tuntasnya kupasan mengenai hal itu, coba kita simak penuturan Psikologi lainnya: Musik klasik, katanya, memiliki berbagai macam harmoni yang terdiri dari nada-nada. Nada-nada inilah yang memberikan stimulasi berupa gelombang alfa. Gelombang ini memberikan ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman, sehingga anak dapat lebih berkonsentrasi.
"Menurut beberapa penelitian, musik klasik memang termasuk metode yang tepat. Anak menjadi siap menerima sesuatu yang baru dari lingkungannya," ujar pengasuh rubrik konsultasi di Klinik Anakku ini. Tapi, jangan coba-coba memperdengarkan musik-musik keras kepada bayi dalam kandungan. Konon, justru menyebabkan timbulnya kebingungan pada si jabang bayi!

Tuesday, 1 April 2014

Dampak Bersikap Keras Terhadap Anak

Kita sering berbicara tentang kenakalan remaja. Kalau kita coba menganalisa dan mencari apa saja sebab setiap kali ada anak nakal, maka perlu ditelusuri, Mengapa dia nakal? dalam situasi seperti apa dia hidup sehingga dia menjadi nakal?

Kenakalan seorang remaja adakalanya karena ketidakpuasan dalamdalam kehidupan keluarga. Dia sering dimarahi atau dicubit. Maka kalau ada kesempatan dia akan menjadi nakal. Dirumah mereka bersikap manis dan baik-baik, namun di luar kelakuan dan sifat kenakalannya muncul.
dampak buruk dan negatif bersikap terlalu keras kepada anak, hinari kekerasan pada anak

Hal seperti ini juga sering kita temui pada remaja SMA bahkan hingga usia perguruan tinggi. Pada usia ini mereka perlu perhatian dan pengungkapan perasaan. Orangtua yang bersikap keras mungkin akan menertawakan saat anaknya minta dimanja, butuh perhatian atau saat butuh sanjungan. Mungkin kehidupan orangtua dulunya keras shingga orangtua juga menurunkan cara tersebut ke anaknya. Niat baiknya bisa jadi agar anaknya menjadi disiplin. Namun jika niat tersebut dilakukan dengan cara yang tidak tepat akan berdampak buruk buat anak.

Misalnya seorang Ayah yang ingin anaknya yang baru berusia 5 tahun disuruh agar melakukan sesuatu serba teratur, termasuk dalam hal bermain, belajar, tidur, makan maupun aktivitas lainnya. anak memang patuh, diam dan menurut bila diperintah, namun hal tersebut karena didasari karena takut kepada ayahnya tadi. Nah di saat tidak berhadapan dengan sang ayah, dia biasanya akan berontak.

Ada pula orangtua yang cara memanggil anaknya dengan suara yang keras, begitu pula halnya saat melarang anak saat melakukan sesuatu terkadang disertai bentakan. Dengan cara demikian si anak akan kehilangan semangatnya untuk berfikir. Tidak kreatif dan tak ada inisiatif karena selalu takut dimarahi. pada dasarnya seorang anak jika disuruh dengan cara yang halus sudah cukup senang, sebaliknya jika perintah dengan bentakan, justru membuat anak bingung. 


Friday, 31 January 2014

Agar Anak Tidak Manja dan Disiplin

Seorang ibu memiliki anak usia 5 dan 7 tahun yang sangat disayangi, sehingga setiap kemauan dan keperluannya selalu disediakan. Namun belakangan setiap anak tersebut membutuhkan sesuatu selalu minta dilayani, padahal anak tersebut bisa saja melakukannya sendiri. Anaknya berkembang menjadi seorang yang "sedikit-sedikit Ibu" . Hingga muncul ketakutan si anak menjadi anak yang tidak mandiri kelak. Bagaimanakah caranya agar seorang anak tidak manja?

Kecintaan oarngtua pada anaknya tak perlu diragukan lagi. Namun kita perlu hati-hati karena si kecil bisa sangat cermat mengamati perilaku kita sebagai orangtua. Jika kita terlalu sering mnuruti segala kemauan si anak bisa saja si anak menjadi super manja. Di usia 5 tahun, anak diharapkan mampu mengurus diri sendiri dan mampu menunda keinginan. Jadi, kalau ia menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan tanggung jawabnya dan keinginannya harus segera dipenuhi, artinya si anak manja.

Para ahli perkembangan anak setuju, Anda pasti sayang pada anak, dan ingin yang terbaik buat anak dalam artian membahagiakan anak. Termasuk memenuhi kebutuhan anak. Inilah salah satu penyebab anak memupuk kemanjaannya. Orang tua terkadang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, padahal apa yang diinginkan anak belum tentu menjadi kebutuhan anak. Orangtua pun lupa dengan disiplin.

Orangtua kerap kali juga tidak percaya dengan kemampuan anak. Ketika si kecil mengatakan "aku bisa" atau "Aku sendiri saja" di usia 3-4 tahun, kita sebagai orangtua tak percaya. Ketika anak ingin makan sendiri, Anda sibuk mencari pembantu untuk menyuapi anak. 

Anak manja tumbuh menjadi seorang anak yang mudah tersinggung, sulit memaafkan dan bekerjasama. Hidup bagi si manja adalah sesuatu yang sulit. Sejak usia 1,8 tahun, anak perlu disiapkan ke arah kedisiplinan.  Jika anak usia 5 tahun sudah terlanjur manja, disiplin harus diterapkan, meski kita harus bekerja keras. Terkadang "pertengkaran" sulit untuk dihindarkan. Namun jika orangtua konsisten dengan mengatakan "tidak" dan mampu menerapkan sanksi bagi pelanggaran yang dilakukan si kecil, anak bisa melihat keseriusan kita menerapkan kedisplinan.

Mulailah dengan dengan membiasakan anak untuk mengurus diri sendiri, seperti memakai baju sendiri setelah mandi; mengambil makanan sendiri yang sudah disiapkan di meja makan; memakai sepatu sendiri, sehingga anak terbiasa mengurus dirinya sendiri, tentunya diawali dari hal-hal yang paling mudah dilakukan anak.

Berilah anak kepercayaan untuk melakukan sesuatu apa yang dia inginkan selama hal tersebut tidak membahayakan dirinya sendiri. Sehingga secara perlahan anak berkembang menjadi anak yang tidak manja dan menjadi anak mandiri.

Friday, 27 September 2013

Selektif Pada Produk Mainan

Selektif Pada Produk Mainan

Selektif Pada Produk Mainan : Selamatkan Kreativitas dan Jiwa Sosial Anak


GENCARNYA promosi produk mainan anak, elektronik maupun manual saat ini mengakibatkan anak terposisikan hanya sebagai konsumen saja. Tidak hanya itu saja, mainan buatan pabrik tersebut juga semakin membatasi kreativitas anak. Bahkan anak bisa lebih bersikap individualis kalau terlalu 'over' bermain dengan permainan elektronik.

Memang hal yang wajar bagi setiap orangtua untuk menyediakan fasilitas mainan pada anak-anaknya. Karena menurutnya dunia anak adalah dunia bermain. "Saat bermain, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bakat, keterampilan dan pengetahuan. Jenis permainan dan mainan yang sejak awal diberikan secara tepat pada balita berperan mengembangkan saraf-saraf motorik yang akan mempengaruhi tingkat intelegensia anak".

Lalu bagaimana wujud dunia bermain anak-anak saat ini? Setidaknya hasil kegiatan Lomba Menggambar Dolanan Bocah maupun Kumpul Bocah dapat menjadi gambaran. Di sana terlihat permainan elektronik dan televisi telah cukup jauh mempengaruhi dunia anak-anak.

"Dalam kegiatan ini terkumpul 137 gambar. Ternyata yang mereka gambar mayoritas permainan elektronik dan tokoh hero dalam film kartun".

Berbagai jenis permainan anak-anak di zaman sekarang cenderung menjauhkan mereka dari interaksi sosial. "Tidak mengherankan jika anak-anak sekarang lebih bersikap individualis dan kurang kreatif".

Butuh Pengawasan

Menghindari anak menjadi konsumen produk mainan memang merupakan hal yang sulit dilakukan. Apalagi sifat anak yang cenderung meniru sesuatu dari lingkungannya. Banyaknya produk mainan instan dan elektronik untuk anak-anak memang sudah membelenggu kreativitas anak. Namun demikian mainan tersebut tidak selalu menghambat pengembangan kreativitas.

"Misalnya, tamiya. Sebelum memainkannya anak harus paham betul teknis cara memasang dan teknis memainkannya. Sehingga secara langsung mereka juga belajar. Begitu pula memodifikasi jenis permainan tamiya, anak juga dituntut kreatif, meskipun terbatas,".

Produk mainan yang tidak langsung jadi, misalnya robot rakitan, push block dan puzzel, menuntut anak untuk berusaha menemukan bentuknya. Ini cukup baik, daripada hanya membeli produk mainan jadi. Memang tidak salah kalau ada yang beranggapan permainan elektronik cenderung membuat anak semakin menjadi individual. Apalagi kalau sang anak terlalu asyik menghabiskan waktunya untuk memainkan mainan itu.

"Di sini peran orangtua sangat penting. Mereka berkewajiban untuk mengawasi anaknya. Jangan sampai terlalu over bermain dengan mainannya. Mereka juga harus mengarahkan anaknya untuk bersosialisasi. Agar proses keseimbangan berjalan baik. Banyak sekali cara yang bisa ditempuh. Misalnya, mengikutsertakan dalam klub renang, klub bermain atau kegiatan masjid".

Selain itu, orang tua harus jeli dan pandai memilih produk mainan. Karena jenisnya saat ini banyak sekali. Jenis produk mainan yang baik, sebaiknya dipilihkan yang bisa merangsang perkembangan intelektualitas anak. Tidak hanya sekedar bagus, mahal dan baru.

"Sejauh pengamatan saya, selama ini orang tua banyak yang lupa. Kalau gerakan motorik anak berpengaruh pada tingkat intelegensi anak. Anak yang gerakan saraf motoriknya optimal, perkembangan saraf otaknya juga akan optimal. Jangan lekas melarang balita yang sedang berlari-lari atau memanjat kursi. Selama masih aman, biarkan saja,".

Permainan keseimbangan sangat dianjurkan pada balita dan anak TK. Karena merangsang saraf-saraf keseimbangan. Pakar psikologi percaya, jika saraf motorik berkembang, saraf keseimbangan juga ikut berkembang. Sel-sel otak terutama nukleus pestibularis juga berkembang.

Tidak dipungkiri kalau fasilitas untuk hal tersebut memang mahal. "Inilah pentingnya menurut saya adanya klub bermain yang lengkap. Dapat diupayakan di TK atau play group. Sehingga orang tua tidak terlalu terbebani. Karena dibeli secara bersama-sama. Sekaligus dapat belajar bersosialisasi,".

Dolanan Anak

Menengok pada permainan anak tempo dulu, seperti dolanan anak, rupanya agak pesimistis bila ada usaha untuk  memunculkannya lagi. Karena jenis permainan ini semakin luntur dimakan jaman, kurang dikenal maupun diminati anak-anak sekarang. Walaupun dia tidak memungkiri kalau sebenarnya permainan semacam itu memang bagus untuk memupuk sosialisasi antar anak. "Selain itu anak di era dulu, kalau ingin punya mainan harus membuat sendiri. Hal ini memang membangkitkan
kreativitas dalam dirinya. Dibandingkan anak sekarang yang hanya tinggal memilih dan membeli berbagai macam produk mainan," ujarnya.

Namun naif rasanya kalau para orangtua harus membendung perubahan orientasi dunia bermain anak di masa sekarang. Jalan yang paling bijak, orangtua harus sering-sering mendampingi anak. Setidaknya, tetap mendorong anak supaya mengembangkan kreativitas dan daya pikirnya.


Thursday, 26 September 2013

Anak Berbakat Kebahagiaan Orangtua?

Anak Berbakat Kebahagiaan Orangtua?

Syukurlah anda tertarik membaca tulisan ini. Yah, mungkin karena anda menanyakan hal yang sama, anda punya jawaban atas pertanyaan tersebut, atau anda bertanya-tanya mengapa saya mempertanyakan hal itu. Tidak masalah dengan alasan ketertarikan anda pada judul di atas, yang penting anda telah menyediakan energi untuk sama-sama membahas persoalan ini.

Saya mempertanyakan hal itu karena seringkali saya mendapati para orang tua, terutama kaum ibu, begitu serius ketika terlibat pembicaraan mengenai prestasi yang dicapai anak-anak. Bahkan tidak jarang saya mendapat kesan para ibu saling berlomba memproklamirkan kehebatan anak-anak mereka.

Fenomena ini sudah saya rasakan sejak lebih dari lima tahun lalu dan salah satu mata rantai dari fenomena ini adalah booming pengembangan sekolah-sekolah unggulan beberapa tahun silam. Sampai akhirnya kini muncul tren sekolah bilingual dan kurikulum ganda (nasional dan internasional, mengadopsi kurikulum dari luar negeri). Masalahnya, saya khawatir masyarakat kita jadi korban industrialisasi dunia pendidikan. Sekolah bukan lagi usaha membimbing anak menggapai ilmu pengetahuan, tapi adalah sarana menuju kemenangan. Lihat saja, sekarang hampir semua anak sekolah tidak hanya belajar di sekolah. Mereka juga ikut les privat dengan alasan membantu pemahaman tentang materi ajar di sekolah dan juga les non-akademik demi pengembangan bakat (katanya). Sampai-sampai pernah ada murid saya yang tidak punya waktu bermain karena 7 hari seminggu harus berkutat dengan sekolah, les pelajaran, les piano, les bahasa asing, juga bantu orangtuanya bekerja. Saya tidak habis pikir ada orang tua setega itu, seacuh itu. Ini penghakiman memang, tapi ini juga fakta karena si anak jelas mengeluh pada saya dan prestasi belajarnya sama sekali tidak terbantu.
bakat anak
Dari sini saya merasa perlu bicara dengan para orang tua (dan juga guru?). Kenapa Bapak/ Ibu seringkali menilai anak-anak itu malas dan tidak punya motivasi untuk mencapai hasil terbaik? Kenapa Bapak/ Ibu selalu menyuruh anak-anak untuk belajar, bahkan ketika liburan sekolah? Saya perlu tanyakan ini karena sepengetahuan saya, tak ada orang yang tidak butuh istirahat. Seperti juga kita yang setiap hari bekerja, anak-anak juga perlu istirahat dan rekreasi. Saya juga tidak setuju bila dikatakan mereka malas karena seperti juga kita semua, hanya akan melakukan sesuatu bila kita mau dan atau merasa perlu melakukan itu.

Kebutuhanlah alasan utama mengapa orang berbuat. Dengan demikian, kita tidak boleh menyimpulkan seorang anak malas sebelum kita mengetahui alasan dia menampilkan perilaku seperti itu. Contoh: soal sekolah. Memang sudah jadi rahasia umum bahwa hampir semua anak tidak suka bersekolah. Tapi hampir tidak pernah ada pembicaraan mengapa mereka jadi tidak suka sekolah, padahal hampir semua anak juga mengatakan bahwa sekolah diperlukan.

Sampai di sini, kita telah masuk pada persoalan kedua. Salah satu kebutuhan vital buat kita semua: kenyamanan. Kita tidak akan dapat melakukan apapun dengan hasil memuaskan ketika kita tidak dalam kondisi nyaman, fisik dan psikis. Coba saja, bagaimana mungkin kita dapat bekerja baik ketika kita sakit. Bagaimana mungkin kita bisa bekerja dengan nikmat ketika setiap hari selalu saja dihantui kedatangan debt collector akibat kita tidak dapat melunasinya. Demikian juga anak. Tidak mungkin
mereka bisa menikmati aktivitas sekolah ketika dia merasa kegiatan bersekolah tidak membuat nyaman akibat berbagai tekanan yang didapatnya. Apalagi lalu aktivitas itu menguasai kehidupannya sampai saat liburan sekolahpun mereka masih harus berurusan dengan beribu tugas yang dibebankan guru + celoteh orang tua soal belajar.

Intermezo saja, saya ingin memberi kritikan. Biasanya guru memberi tugas saat liburan dengan alasan anak tidak akan belajar jika tidak diberikan tugas. Pertanyaan saya, Bukankah liburan itu memang saatnya istirahat dari segala kepenatan aktivitas sekolah? Menjawab pertanyaan itu, ada guru yang berkata bahwa dia masih mengerjakan tugas saat liburan dan saya selalu saja mengatakan, Kalau kamu memilih jadi guru dan membawa pulang  ekerjaan, bukan berarti murid-murid itu harus melakukan hal yang sama. Mereka boleh saja punya pilihan sendiri, mau istirahat, bermain atau tetap
belajar saat liburan.

Kita kembali pada fokus pembicaraan. Jadi, jelas kita tidak boleh memaksakan apa yang kita anggap baik kepada anak-anak. Sekalipun kita tahu si anak punya potensi yang sangat bisa dikembangkan. Jika hal itu dilakukan, saya lebih dari yakin bahwa anak tidak akan merasakan kebahagiaan akibat
rasa tertekan yang dialaminya. Ujungnya, hasil optimal yang diharapkan akan semakin jauh dari jangkauan. Walau begitu, bukan berarti kita tidak perlu melakukan apapun. Ada satu hal yang justru wajib kita lakukan agar anak-anak itu dapat mencapai hasil optimal sesuai potensinya. Satu hal untuk setiap sudut pandang.

Kalau anda menilai anak berbakat adalah kebutuhan, artinya anak berbakat adalah aset guna meraih kebahagiaan, satu hal itu adalah: membuat anak membutuhkan hal itu. Tidak ada orang lapar dan tidak berusaha mati-matian untuk mendapatkan makanan. Jadi agar anak mau melakukan apa yang anda inginkan, anda hanya perlu menciptakan kebutuhan itu dan dia dengan sendirinya akan berusaha mendapatkannya. Anda tidak lagi perlu memaksa/ memarahinya.

Jika anda menilai anak berbakat sebagai sebuah kebahagiaan, maka satu hal yang perlu anda lakukan adalah: membimbing si anak untuk mensyukuri apa yang dimiliki dengan merawat dan mengembangkan kelebihannya itu.

Sekarang kita bicara dampak yang dihasilkan tiap sudut pandang itu. Jika anda pakai sudut pandang kebutuhan, sangat mungkin anda akan memacu anak demi mencapai puncak prestasi dan mendapat kebahagiaan dengan memenangkan persaingan. Dalam hal ini, anda perlu mempersiapkan diri untuk mengatasi persoalan yang akan anda hadapi. Diantaranya, anak ternyata tidak memiliki potensi sebesar yang anda kira. Anak mogok karena kejenuhan yang dirasakan sudah mencapai puncaknya. Atau si anak meninggalkan anda, dalam arti emosional dan atau fisik.

Jika berhasil menciptakan kebutuhan itu dan anak akhirnya melakukan apa yang anda inginkan, jangan kaget ketika satu saat anda merasa dia jadi kurang ajar karena merasa hebat. Artinya, jika ini yang anda rencanakan, coba pelajari dulu potensi anak sebenarnya, keinginan dan kebutuhan si anak, dan siapkan juga pendidikan moralnya agar dia benar-benar bisa menjadi seperti yang anda inginkan.

Terakhir, anda tetap perlu menyadari bahwa bukan anda yang melakukan. Jadi keberhasilan sepenuhnya tergantung si anak, bukan anda yang menentukan. Siapkan juga agar anda tidak frustrasi ketika keinginan itu tidak tercapai.

Sekarang dampak apa yang kira-kira terjadi jika anda mengacu pada sudut pandang kebahagiaan. Sangat mungkin anda akan memberi pilihan kepada anak dan biarkan dia membuat keputusannya sendiri. Dasarnya, jelas karena anda ingin anak menikmati keberbakatannya itu sehingga akhirnya bisa berkembang mencapai titik optimal.

Resikonya, anda mungkin saja akan mendapati anak berganti-ganti aktivitas. Entah karena bosan atau merasa tidak mampu. Anda perlu mencermati hal ini karena intensitas rasa bosan dan atau kegagalan akan dapat membuat anak frustrasi. Jadi anda perlu mendampingi dengan memberi pengetahuan
tentang pilihan yang ada secara komprihensif agar dia benar-benar mengerti apa yang akan dihadapi bila memilih yang ini dan apa yang terjadi jika pilih yang itu.


Anda berorientasi mengelola apa yang dimiliki anak. Hal ini membuat anda memiliki resiko frustrasi lebih sedikit dari mereka yang memandangnya sebagai kebutuhan. Anda mengajak anak untuk menikmati apa yang dimiliki, bukannya berusaha mendapatkan yang belum ada sehingga anda cenderung tidak pasang target prestasi.

Itu sisi lain yang perlu diperhatikan. Artinya, sudut pandang anda tentang keberbakatan mungkin membuat anak terlihat tidak punya motif berprestasi. Jangan sampai anda akhirnya memarahi anak karena prestasinya tidak berada pada tingkat terbaik. Anak anda sangat mungkin akan berada pada
skala rata-rata atau rata-rata atas tapi bukan terbaik karena tujuannya menikmati apa yang dia lakukan, bukan untuk menjadi yang terbaik. Itulah hasil terbaik yang dicapainya dan itu juga yang anda targetkan, anak berbahagia atas apa yang dimiliki dan mensyukurinya dengan merawat dan
mengembangkannya.

Apapun yang anda inginkan, apapun pendapat anda tentang anak berbakat, anak tetap anak. Jangan menempatkan anak sejajar dengan orang dewasa karena anak jelas bukan orang dewasa berukuran mini. Anak punya dunia sendiri dan kita wajib menghormatinya. Anak adalah manusia utuh yang juga punya hak asasi. Mari kita perlakukan anak sebagaimana diri kita juga ingin diperlakukan. Biar mereka belajar dari apa yang kita lakukan. Biar mereka mendapat pengetahuan, kebijakan dan kebahagiaan dengan caranya sendiri.

Wednesday, 25 September 2013

Prestasi Anak, Tuntutan Orangtua?

Prestasi Anak, Tuntutan Orangtua?

DIMAS (10) pulang sekolah dengan wajah cemberut. Dia langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar sampai sore hari. Dimas sudah membayangkan, ayahnya akan marah besar karena Dimas mendapat nilai empat untuk ulangan Matematikanya kemarin. Dulu ketika ulangan IPS-nya mendapat nilai empat juga, ayah marah dan menghukum Dimas tidak boleh main ke luar hingga satu minggu. Dimas juga tidak mendapatkan uang saku selama dua hari.

Dimas sangat takut. Guru di sekolah minta supaya ulangan tersebut ditandatangani orangtua. Mau tidak mau ayah akan mengetahui dia mendapat nilai empat lagi dan Dimas pasti terkena omel ayah. Tetapi, bila tidak minta tanda tangan, pasti ibu guru di sekolah marah. Perasaan takut dan cemas menggelayuti perasaan Dimas. Bingung apa yang harus dilakukannya, Dimas memberanikan diri memalsu tanda tangan orangtuanya. Usaha itu ternyata berhasil. Orangtuanya tidak tahu dirinya mendapat nilai jelek, sementara guru juga tidak marah karena sudah ada tanda tangan orangtua di kertas ulangan itu.

Keberhasilan memalsu tanda tangan yang melepaskan Dimas dari omelan ayah dan gurunya, diulang terus oleh Dimas setiap kali Dimas mendapat nilai jelek. Orangtua hanya tahu Dimas selalu mendapat nilai bagus. Sementara, guru merasa orangtua Dimas sudah mengetahui kualitas Dimas di sekolah seperti apa. Ketika hari pembagian rapor tiba dan prestasi Dimas ternyata biasa-biasa saja bahkan ada dua nilai lima di rapornya, baru seluruh dunia ribut. Orangtua tidak menerima Dimas tidak naik kelas karena selama ini nilainya bagus. Sementara guru juga tidak bisa menerima protes karena merasa orangtua telah mengetahui semua nilai ulangan Dimas. TIDAK hanya orangtua Dimas yang kecewa jika anaknya gagal atau mendapat nilai jelek di sekolah. Mereka ingin anaknya mencetak prestasi lebih tinggi dari teman-temannya. Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, orangtua tidak segan-segan memarahi anaknya dan menghukumnya dengan hukuman cukup berat jika anaknya mendapat nilai jelek.

Sebenarnya apa itu prestasi? Menurut seorang psikolog, prestasi adalah perwujudan dari bakat dan kemampuan. Bakat merupakan kemampuan bawaan yang berupa potensi. Namun, walau potensi ini sudah ada di dalam diri, tetap butuh latihan dan pengembangan terus menerus. Jika bakat tidak dilatih dan dikembangkan, maka tidak mendatangkan manfaat apa pun pada orang yang memilikinya. Kemampuan merupakan daya atau kesanggupan melakukan suatu tindakan. Kemampuan ini didapat dari hasil pembawaan dan latihan. Kenyataannya, walau seorang anak memiliki bakat dan kemampuan, tidak mudah membuat seorang anak berprestasi.

Banyak kenyataan di luar diri anak yang membuat kedua hal itu tidak muncul. Kenyataan paling jelas adalah kenyataan di keluarga, kenyataan di media, dan kenyataan di sekolah, diungkapkan di tengah seminar Club Buah Hati bertajuk Menghantar Anak Berprestasi dengan Cara Menyenangkan. Kenyataan-kenyataan itu harus dilihat secara keseluruhan. Misalnya di rumah, bila setiap hari sang anak mendapatkan gizi yang baik dan rangsangan yang tinggi dari keluarganya, anak bisa berkembang dengan cepat dan cerdas. Namun, di sisi lain ada orangtua yang menuntut segala sesuatu dengan standar tinggi yang begitu tingginya sampai tidak satu pun anak bisa menjangkaunya. Anak tidak diberi kesempatan untuk sekali-kali merasakan hal-hal di bawah standar yang ditetapkan. Jika prestasi anak di bawah standar, maka hanya omelan dan hukuman yang didapat anak.

Hal lain yang membuat anak tidak berprestasi, yaitu sikap orangtua yang membiarkan anak mengonsumsi seluruh sajian yang ditayangkan di media. Sajian seperti di televisi atau komik memang sangat menarik bagi anak, namun tidak semua informasi merupakan informasi sehat dan dibutuhkan anak. Akibatnya, anak mengetahui banyak hal yang belum pantas. Orangtua lupa dia tidak punya kemampuan mengontrol seluruh materi yang ditampilkan di media.
Di sekolah, anak juga mendapatkan kenyataan yang membuatnya sulit berprestasi. Misalnya, materi pembelajaran dan cara penyampaian tidak menarik. Hal ini terjadi karena guru tidak paham tentang perkembangan anak. Gaya komunikasi guru tidak sesuai dengan anak-anak. Selain itu, buku dan alat peraga yang digunakan tidak bisa memenuhi rasa ingin tahu dan kemampuan anak.

LALU bagaimana menyelenggarakan pendidikan yang menyenangkan bagi anak sehingga anak bisa berprestasi? Ada tiga C yang harus diperhatikan, yakni children (anak), content (materi) dan context (situasi) . Orangtua dan guru harus menyadari setiap anak merupakan pribadi yang unik dan
berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan ini terjadi karena setiap anak mempunyai bakat, kemampuan dan kebutuhan yang berbeda. Setiap anak pastilah mempunyai salah satu dari sembilan kecerdasan yang diberikan Tuhan. Bahkan, ada juga anak yang memiliki lebih dari satu kecerdasan. Kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik, matematika-logika, ruang-visual, musik, naturalis, interpersonal, intrapersonal, kemampuan olah tubuh, dan spiritual. Selain itu, ada beberapa potensi yang bisa dikembangkan anak, seperti fisik, iman, akhlak, ibadah, emosi, sosial, mental, dan keterampilan. Biarkan anak mengembangkannya seperti keinginannya, jangan kembangkan seperti keinginan orangtua. Orangtua hanya mengarahkan saja .

Begitu juga dengan materi yang akan disampaikan pada anak. Materi harus yang dibutuhkan anak, bukan yang diinginkan orangtua. Namun demikian, materi itu juga harus disesuaikan dengan perkembangan anak, kemampuan dan bakat anak. Perlakuan yang tepat dan materi yang sesuai tidak akan mempunyai efek yang positif jika tidak disampaikan pada situasi yang tepat. Ada tiga cara penyampaian yang efektif, yakni dengan bermain, bernyanyi, dan bercerita. Tidak ada salahnya sesekali kita meninggalkan status kita sebagai orangtua. Kita bisa juga sekali-sekali berubah menjadi badut, tukang sulap, ilmuwan, atau sahabat bagi anak kita .

Satu yang harus dipahami orangtua, prestasi anak bukanlah prestasi untuk orangtuanya. Prestasi itu untuk diri anak itu sendiri. Orangtua cukup mengarahkan dengan benar dan membantu anak dengan cara-cara yang disukai anak, bukan dengan hukuman atau omelan yang bisa merusak hubungan harmonis anak dengan orangtua. Dan, keberhasilan anak tidak saja dari usaha yang dilakukan anak, tetapi juga tergantung pada orangtua dan lingkungan di sekitarnya.

Tuesday, 24 September 2013

Sikap Ayah Pengaruhi Perkembangan EQ Bayi

Sikap Ayah Pengaruhi Perkembangan EQ Bayi

Sikap Ayah Pengaruhi Perkembangan EQ Bayi

Sikap seorang ayah ternyata cukup berpengaruh terhadap EQ bayi. . Jika si Ayah suka menampilkan wajal sebal, si bayi konon mengamati dan ikut-ikutan menampilkan wajah sebal juga. Jika si Ayah suka cemburu, eh si bayi juga konon begitu juga. Mari kita simak bagaimana psikologi seorang bayi yang dipengaruhi oleh sikap ayahnya.

Usia 0 - 3 Bulan


Hubungan emosional bayi dengan ibunya sudah ada sejak dalam kandungan, demikian kata sebagian pakar. Bayi bisa tahu bila ibunya dalam keadaan stres atau tenang. Jika ibu stres, biasanya bayi ikut rewel, cengeng, dsb.). Jika ibunya tenang, bayi pun tenang. Jika saat ini ibu stres akibat kecemburuan ayah terhadap bayi (yang ditunjukkan lewat perbuatan atau kata-kata yang negatif), otomatis, bayi pun bisa merasakannya dan ikut- ikutan stres.

Sebagian pakar lain mengatakan bahwa hubungan bayi dengan orangtuanya mulai terjalin saat ayah ibunya memberinya minum, menggendong, mendekap, dan menenteramkannya. Kualitas hubungan bayi dengan ayah ibunya di masa ini akan mempengaruhi proses perkembangan keterampilan sosialnya nanti. Jika kecemburuan ayah sampai memperburuk kualitas hubungannya dengan bayi, dikhawatirkan buruk pula proses perkembangan keterampilan sosial si kecil nantinya.

Saat berusia 3 bulan, bayi mulai berminat berinteraksi sosial lewat tatap muka, terutama wajah kedua orangtuanya. Ia akan belajar banyak hal lewat pengamatan dan peniruan bagaimana 'membaca' dan mengungkap emosi. Inilah tahap untuk secara aktif mulai melatih emosi bayi. Apa jadinya bila ayah sering menampilkan wajah sebal atau malah membuang muka setiap kali bayi menatapnya? Maka bayi akan mengamatinya, membacanya, dan ikut-ikutan sering menampilkan wajah sebal.

Usia 6 - 8 Bulan

Di usia ini bayi mulai menemukan cara baru untuk mengungkapkan perasaan hatinya, semisal sedih, gembira, takut, marah, dsb. kepada sekelilingnya. Jika sebelumnya ia hanya mampu memikirkan benda atau manusia yang ditatapnya saat itu, sekarang ia sudah bisa memindahkan perhatiannya sambil tetap mengingat objek/manusia tanpa harus menatapnya lagi. Kalau ia senang dengan bola merahnya, ia akan memandang orang tuanya atau orang lain sambil menyampaikan rasa senangnya (lewat senyum, ocehan, atau gelak tawa). Inilah dasar kemampuan untuk bermain dan berinteraksi secara emosional nantinya. Jika bayi lebih banyak merasa sedih/takut pada ayahnya yang galak atau ketus dibakar cemburu, ia akan selalu menatap sekelilingnya dengan ekspresi begitu pula. Mengenaskan, ya!

Usia 9 - 12 Bulan

Di rentang usia ini, bayi mulai memahami bahwa manusia dapat membagi gagasan dan emosi mereka satu sama lain. Bila ayah atau ibu bertanya kepada bayi, "Dedek lagi kesal, ya?", bayi dapat memahami bahwa orangtuanya ternyata bisa membaca atau mengetahui suasana hatinya. Dengan kata lain bayi mulai memahami bahwa dengan menunjukkan ekspresi tertentu, ia atau orang lain dapat berbagi emosi.

Jika ayah yang cemburu keapda bayi selalu menunjukkan ekspresi negatif (acuh tak acuh, sebal,kesal, dsb.), bayi pun mengetahui suasana hati ayahnya sedang tak bersahabat. Dan jika bayi selalu  menjumpai ayahnya dalam keadaan seperti ini, ia pun cenderung menghindar dari sang ayah. Dengan begini, bayi akan kekurangan kasih sayang ayah. Padahal, menurut Robin Skynner, pendiri dan pengajar pada Institute of Family Therapy, Inggris, kehadiran seorang ayah yang penuh kasih sayang di samping bayi kelak akan membantu si bayi menghadapi berbagai masalah dan kelompok yang lebih dari dua orang.



Monday, 16 September 2013

Pola Asuh Anak Yang Tepat

Pola Asuh Anak Yang Tepat

Ada tiga macam pola asuh orangtua terhadap anak, yaitu:

1. Authoritarian
2. Permisif
3. Authoritave

Mana yang paling tepat untuk anak Anda?

Dorothy Law Nolte pernah menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya.
Lengkapnya adalah :
Jika anak dibesarkan dengan celaan,
ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
ia belajar menyeasali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan,
ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan


Pernyataan Dorothy tersebut menunjukkan bahwa lingkungan, terutama keluarga akan membentuk
sikap dan perilaku anak. Setiap orang tua pasti ingin anaknya "berhasil" di masa depan. Berhasil dalam hal ini bukan pada karier, tetapi lebih pada aspek kognitif, afektif dan perilaku. Salah satu cara agar anak "berhasil" di masa depannya daat dilakukan di lingkungan keluarga, yaitu dengan menerapkan pola asuh orang tua terhadap anak yang tepat. Kesalahan yang terjadi dapat berakibat buruk bagi masa depan anak, baik dari segi kognitif, afektif dan perilaku.

Ada tiga macam pola asuh orang tua, yaitu :

Authotarian
Pola ini menggunakan pendekatan yang memaksakan kehendak orang tua kepada anak. Anak harus menurut orang tua. Kemauan orang tua harus dituruti, anak tidak boleh mengeluarkan pendapat.Pola asuh ini dapat mengakibatkan anak menjadi penakut, pencemas, menarik diri dari pergaulan, kurang adaptif, kurang tujuan, mudah curiga pada orang lain dan mudah stress.

Permisif
Orang tua serba membolehkan anak berbuat apa saja. Orang tua memiliki kehangatan dan menerima apa adanya. Kehangatan, cenderung memanjakan, dituti keinginnannya. Sedangkan menerima apa adanya akan cenderung memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat apa saja. Pola asuh ini dapat mengakibatkan anak agresif, tidak patuh pada orang tua, sok kuasa,kurang mampu mengontrol diri dan kurang intens mengikuti pelajaran sekolah.

Authoritative
Orang tua sangat memperhatikan kebutuhan anak dan mencukupinya dengan pertimbangan faktor kepentingan dan kebutuhan. Pola asuh ini dapat mengakibatkan anak mandiri, mempunyai kontrol diri dan kepercayaan diri yang kuat, dapat berinteraksi dengan teman sebayanya dengan baik, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal yang baru, kooperatif dengan orang dewasa, penurut, patuh dan berorientasi pada prestasi. Pola asuh orang tua mempengaruhi perilaku anak. Sekarang kembali kepada diri kita sendiri, sebagai calon orang tua dan orang tua untuk memilih mau seperti apa anak-anak kita?

Tuesday, 18 December 2012

Ide Melucu di depan Anak, pentingnya rasa humor buat anak

Ide Melucu di depan Anak, pentingnya rasa humor buat anak

Banyak orangtua mengaku tak punya ide untuk melucu di hadapan anaknya dengan alasan yang berbeda-beda, misalnya karena tak ada waktu luang, tak ada bakat melucu, malu dianggap seperti anak kecil dan sebagainya. Padahal sense of humor tidak selalu sesuatu yang berupa lawakan yang bisa membuat anak terpingkal-pingkal. Namun yang terpenting adalah bagaimana membuat seseorang bisa menghargai atau mensyukuri sesuatu sehingga membuatnya gembira.

Sense of humor bisa diperkenalkan sejak dalam kandungan, dapat memalui tontonan televisi sejak ibu hamil atau dapat juga candaan seorang ayah pada saat membelai perut ibu yang sedang hamil. Anak yang memiliki sense of humor adalah anak yang sehat dan smart, karena mereka melihat sesuatu selalu dengan rasa senang dan keceriaan.

Sense of humor tidak ada teorinya dan tidak bisa dipelajari, sehingga muncul secara alami. Sebenarnya sejak lahir setiap anak punya rasa humor dengan tawa bayi, mereka tertawa hanya dengan digelitik atau "cilukba". ekspresi lucu wajah orangtua pun sudah bisa merangsang tawa bayi. 

Rasa Humor harus sehat dan mendidik sesuai dengan usia anak, rasa humor juga tidak selamanya identik dengan bercanda, karena bercanda berlebihan, bisa-bisa mengarah pada mengerdilkan orang lain, yang pasti melucu pada anak yang baik adalah tidak membuat tersinggung, sakit hati dan merusak suasana. 

Berikut ini beberapa ide yang bisa membantu orangtua dalam melucu/memunculkan rasa humor di depan anak:

  • Anak kecil suka kejutan, kata-kata konyol, gambar dan gerakan slapstick (lucu)
  • Pada usia pra sekolah, mereka menganggap lucu hal yang tak masuk akal, tidak normal, misalnya gambar ikan berkacamata
  • Mengambil lagu favorit dan mencampurkan kata-katanya. Kita tak hanya mendapat tawanya, namun juga membuatnya aktif berfikir bahwa orangtua tidak selalu benar dengan lagu favoritnya.
  • Sesekali kita berpura-pura lupa atau bingung, sehingga anak tertawa
  • Pura-pura menyebut sesuatu terbalik dari belakang, misalnya membaca buku dari belakang
  • Anak-anak suka tertawa pada hal yang lucu, namun bisa saja lucu bagi seorang anak bisa menakutkan bagi anak yang lain, misalnya badut.

Disamping itu, sebaiknya orangtua memberikan kebebasan berekspresi dalam mengungkapkan jiwa humornya. Tanpa sense of humor, bisa terbentuk jiwa anak yang tidak bahagia dan rapuh. anak seperti ini biasanya mudah patah semangat. Anak yang memiliki sense of humor akan lebih ceria, setiap hal akan dihadpinya dengan tenang dan gembira.

Tuesday, 3 April 2012

Cara Mengatasi Rasa Takut Phobia pada Anak-Anak

Selain bisa jadi obat mujarab mengatasi rasa takut, bermain peran (role play) juga merangsang imajinasi dan kemampuan verbal si prasekolah.
"Ibuuu...ada ayam, aku takut!" jerit Susan, seorang bocah prasekolah sambil berlari kencang dan mencoba berlindung di belakang ibunya saat melihat hewan peliharaan tetangganya melintas di depannya. "Ah...masa udah gede takut sama ayam. Kamu, kan, suka makan ayam?" goda si ibu. Memang umumnya rasa takut pada anak muncul karena anak sering ditakut-takuti. Umpamanya dengan ucapan, "Awas, lo, kalau masih nangis terus dan enggak mau diem, nanti kamu dipatuk ayam." Atau "Pokoknya, kalau makannya enggak habis, Mama panggilin dokter biar nyuntik kamu!"
mengatasi fobia
mengatasi phobia anak
Memang, sih, metode semacam ini amat tokcer untuk "memaksa" anak mau menuruti keinginan orang tuanya. Alhasil, anak selalu takut jika melihat bahkan mendengar suara sosok siapa pun atau binatang yang baginya telanjur dianggap menyeramkan. Padahal sosok maupun binatang yang selama ini dianggap menakutkan si kecil tersebut sebetulnya sama sekali tak berbahaya. "Itulah akibat yang mestinya dicermari kalau orang tua hanya mencari jalan pintas dengan cara menakut-nakuti anak,".
Bentuk ekspresi ketakutan itu sendiri bisa macam-macam. Biasanya lewat tangisan, jeritan, bersembunyi atau tak mau lepas dari orang tuanya. Untungnya, seperti dijelaskan, rasa takut ini akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. "Saat anak merasa aman dengan dirinya sendiri maupun lingkungannya, hilanglah rasa takut tadi. Tentu saja perlu dukungan orang tua." Yang jadi masalah adalah bila rasa takut mengendap dan tak teratasi sehingga berpengaruh pada aktivitas sehari-hari anak. "Bahkan bisa mengarah jadi ketakutan yang bersifat patologis. Malah bisa fobia alias ketakutan berlebih karena pernah mengalami kejadian tertentu." Misalnya, gara-gara takut tikus, tiap kali melihat hewan itu, ia akan menjerit ketakutan. "Tapi umumnya jarang muncul pada anak batita, kok,".

BERIMAJINASI LEWAT ROLE PLAY
Bermain peran, menjadi satu satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi rasa takut anak. Dalam permainan ini si anak memerankan sosok yang selama ini dianggap menakutkannya. Ketakutan yang bercokol dalam diri si kecil dimanifestasikan melalui cara ini, hingga diharapkan dia tak memiliki rasa takut lagi di kemudian hari.
Bermain peran juga dapat membuat anak pandai berimajinasi karena memerankan sosok yang bukan dirinya. Misalnya, dia mengkhayalkan dirinya menjadi dokter yang menurutnya termasuk sosok menyeramkan. Melalui cara ini, anak belajar berempati pada posisi orang lain. Selain belajar bereksplorasi dan berimajinasi serta meningkatkan kemampuan verbal, dengan bermain peran anak juga diharapkan dapat mengatasi rasa takut dalam dirinya.
 
Berikut ini rasa takut yang banyak dialami anak dan cara mengatasinya dengan cara bermain peran:

1. Takut Dokter
Anak biasanya takut dokter karena pengalamannya pernah disuntik yang ternyata rasanya cukup menyakitkan bagi mereka. Maka tak heran, baru memasuki ruangan dokter atau melihat peralatan sampai mencium "bau" obatnya saja, anak sudah menjerit-jerit atau menangis histeris. Apalagi kalau saat diperiksa dan disuntik. Penyebabnya selain karena punya pengalaman traumatik, bisa jadi ia dulu kenyang ditakut-takuti bakal disuntik dan sebagainya oleh orang tuanya.

* Cara mengatasinya:
Anak memainkan peran sebagai dokter, sedangkan orang tua atau kakak/adik berpurapura Menjadi pasiennya. Gunakan mainan berbentuk alat-alat yang biasa digunakan dokter, seperti stetoskop. Biarkan anak bereksplorasi dan berimajinasi memerankandokter yang sedang memeriksa pasien. Secara tak langsung, anak Menjadi tahu bagaimana cara dokter menghadapi pasien pasien yang takut diperiksa. Semisal dengan cara menenangkannya, "Jangan takut, ya, Bu-Pak. Saya Cuma periksa sebentar aja, kok. Kalaupun harus disuntik, enggak sakit, kok. Kan, supaya lekas sembuh." Dengan berpura-pura memberikan nasihat seperti itu, bukan tidak mungkin sosok dokter justru menarik minatnya dan malah bercita-cita menjadi dokter.

2. Anak Takut pada orang yang baru dikenal
Tak jarang anak-anak tampak takut pada orang yang pertama kali ditemuinya. Dia akan berusaha menjaga jarak, apalagi orang yang menghampirinya itu berwajah kurang "bersahabat". Yang juga kerap terjadi, orang tua terkesan berlebih saat menasihati anaknya untuk tidak terlalu akrab dengan orang yang tidak dikenal. "Awas, kamu jangan deket-deket sama orang yang enggak kamu kenal. Bisa-bisa kamu nanti diculik, lo!" Memang, sih, ada segi positifnya bila orang tua senantiasa wanti-wanti si kecil agar waspada terhadap orang lain atau yang baru dikenalnya. Tapi tentunya bukan dengan cara berlebihan yang menyebabkan si kecil malah selalu ketakutan pada orang lain.

* Cara mengatasinya:
Ajak anak bermain tamu-tamuan. Ikutkan pula teman-temannya. Posisikan dia untuk bergantian memainkan peran sebagai tamu yang berkunjung ke rumah orang lain, atau sebagai nyonya rumah yang kedatangan tamu. Bermain peran untuk mengikis rasa takut pada orang lain juga bisa dilakukan dalam berbagai situasi, seperti di toko, sekolah dan tempat keramaian lainnya.

3. Anak Takut Pada Binatang
Adalah hal yang wajar bila anak takut pada binatang yang baru pertama kali dilihatnya. Apalagi bila hewan itu kelihatannya buas dan menyeramkan. Hanya saja sungguh sayang bila orang tua tak berusaha menjelaskan dan memperkenalkan anak pada binatang-binatang yang ditemuinya tadi. Seperti mengajaknya mengelus-elus bulu kucing atau memberi makanan pada induk ayam dan anak-anaknya. Sangat tidak bijaksana pula jika orang tua malah menambah rasa takut anak pada binatang yang sebenarnya relatif tak membahayakan. "Awas, jangan dekat-dekat, nanti kamu dicakar kucing."

* Cara mengatasinya:
Anak bermain peran sebagai sosok pemandu/pelatih sirkus yang sehari-hari melatih binatang. Ini akan menyadarkan anak bahwa binatang pada dasarnya bisa dilatih untuk menurut dan diajak bekerja sama. Cara lain adalah dengan bermain sandiwara di panggung yang menggelar cerita tentang hewan-hewan sebagai sahabat manusia.

4. Anak Takut Hantu
Banyaknya tayangan televisi yang menyajikan program acara bertajuk cerita hantu tak ayal ikut mempengaruhi kadar rasa takut anak-anak. Ironisnya, tak sedikit orang tua yang menjadikan cerita hantu ini sebagai "senjata" untuk menakuti-nakuti si kecil. Meskipun rasa takut pada hantu bisa saja terjadi akibat faktor "genetik" berupa sikap penakut dari orang tuanya.

* Cara mengatasinya:
Anak bermain peran sebagai hantu yang selalu membantu orang yang kesulitan seperti film/buku cerita Casper. Atau bisa juga berperan sebagai penyihir yang baik hati. Jadi, anak mempersepsikan hantu bukan sebagai sosok yang menakutkan.

5. Anak yang Takut Masuk Sekolah
Anak yang pertama kali masuk TK awalnya takut beradaptasi dan bersosialisasi dengan guru dan teman-teman barunya. Terlebih bila orang tua juga tak berusaha memperkenalkan si kecil pada temannya.

* Cara mengatasinya:
Sebelum didaftarkan masuk TK, anak diajak bermain sekolah-sekolahan. Anak bermain peran sebagai murid atau guru. Saudara sepupu si kecil atau tetangganya yang seusia bisa dilibatkan untuk berpura-pura sebagai murid. Sehingga anak tak takut dan tak canggung lagi di hari pertamanya masuk TK.

6. Anak yang Takut Berpisah (SEPARATION ANXIETY)
Anak cemas harus berpisah dengan orang terdekatnya. Terutama ibunya, yang selama 3 tahun pertama menjadi figur paling dekat. Figur ibu, tak selalu harus berarti ibu kandung, melainkan pengasuh, kakek-nenek, ayah, atau siapa saja yang memang dekat dengan anak. Kelekatan anak dengan sosok ibu yang semula terasa amat kental, biasanya akan berkurang di tahun-tahun berikutnya. Bahkan di usia 2 tahunan, kala sudah bereksplorasi, anak akan melepaskan diri dari keterikatan dengan ibunya. Justru akan
jadi masalah bila si ibu kelewat melindungi/overprotektif atau hobi mengatur segala hal, hingga tak bisa mempercayakan anaknya pada orang lain. Perlakuan semacam itu justru akan membuat kelekatan ibu-anak terus bertahan dan akhirnya menimbulkan kelekatan patologis sampai si anak besar. Akibatnya, anak tak mau sekolah, gampang nangis, dan sulit dibujuk saat ditinggal ibunya.Bahkan si ibu beranjak ke dapur atau ke kamar mandi pun, diikuti si anak terus. Repot, kan? Belum lagi ia jadi susah makan dan sulit tidur jika bukan dengan ibunya.

*Cara Mengatasinya:
Jelaskan pada si kecil, mengapa ibu harus pergi/bekerja. Begitu juga penjelasan tentang waktu meski anak usia ini belum sepenuhnya mengerti alias belum tahu persis kapan pagi, siang, sore, dan malam serta pengertian mengenai berapa lama masing-masing tenggang waktu tersebut. Akan sangat memudahkan bila orang tua menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Semisal, "Nanti, waktu kamu makan sore, Ibu sudah pulang." Jika tak bisa pulang sesuai waktu yang dijanjikan, beri tahu anak lewat telepon. Sebab, anak akan terus menunggu dan ini justru bisa menambah rasa takut anak. Ia akan terus cemas bertanya-tanya, kenapa sang ibu belum datang.

7. Anak Yang Takut Gelap
Biasanya juga gara-gara orang tua. "Mama takut, ah. Lihat, deh, gelap, kan?" Takut pada gelap bisa juga karena anak pernah dihukum dengan dikurung di ruang gelap. Bila pengalaman pahit itu begitu membekas, bukan tidak mungkin rasa takutnya akan menetap sampai usia dewasa. Semisal keluar keringat dingin atau malah jadi sesak napas setiap kali berada di ruang gelap atau menjerit-jerit kala listrik mendadak padam.

*Cara Mengatasinya:
Saat tidur malam, jangan biarkan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Paling tidak, biarkan lampu tidur yang redup tetap menyala. Cara lain, biarkan boneka atau benda kesayangannya tetap menemaninya, seolah bertindak sebagai penjaganya hingga anak tak perlu takut.

8. Anak yang Takut Berenang
Sangat jarang anak usia batita takut air. Kecuali kalau dia pernah mengalami hal tak mengenakkan semisal tersedak atau malah nyaris tenggelam saat berenang hingga hidungnya banyak kemasukan air.

*Cara Mengatasinya:
Lakukan pembiasaan secara bertahap. Semisal, awalnya biarkan anak sekadar merendam kakinya atau menciprat-cipratkan air di kolam mainan sambil tetap mengenakan pakaian renang. Bisa juga dengan memasukkan anak ke klub renang yang ditangani ahlinya. Atau dengan sering mengajaknya berenang bersama dengan saudara/teman-teman seusianya. Tentu saja sambil terus didampingi dan dibangun keyakinan dirinya bahwa berenang sungguh menyenangkan, hingga tak perlu takut. Kalaupun anak tetap takut, jangan pernah memaksa apalagi memarahi atau melecehkanrasa takutnya. Semisal, "Payah, ah! Berenang, kok, takut!".

BERKEMBANG JADI FOBIA
Jika sejak kecil anak selalu takut, sementara tak ada dorongan dari orang tua untuk mengatasi rasa takut tersebut, tidak tertutup kemungkinan ketakutannya bias berkembang menjadi fobia/takut yang berlebihan. "Kalau tak diantisipasi, bisa menjadi sesuatu yang menghambat segalanya. Ke mana-mana takut, hingga jiwanya juga tak berkembang,".
Padahal sebagai orang tua harusnya tahu bahwa anak membutuhkan rasa aman dan nyaman. Bila lingkungan malah membuat anak makin merasa takut, maka jangan harap bakal tercipta rasa aman dan nyaman. Kelak jika suasana takut itu terus-menerus "dipelihara", justru proses bermain dan belajar si anak akan terganggu juga.
Selain karena lingkungan yang tak mendukung anak untuk mengatasi rasa takutnya, ternyata penelitian juga menunjukkan bahwa fobia itu "ditularkan" oleh orang tua, terutama sang ibu. Pasalnya, sosok ibu lebih memiliki kedekatan emosional dengan si anak daripada dengan ayah. Contoh konkret, bila ibu takut pada suasana gelap, maka secara otomatis bila kondisi itu muncul, ibu secara spontan akan mencengkeram tangan si kecil. Dengan kata lain bisa membuat anak ikut-ikutan takut.
Nah, untuk menghilangkan fobia takut ini dibutuhkan proses dan latihan. Yang patut diperhatikan, ketakutan irasional ini bisa menggeneralisasi alias bisa berdampak sangat luas dan parah. Misalnya, anak yang takut ayam, jangankan bertemu dengan hewan petelur itu, mendengar suara ayam berkotek saja sudah bergidik. Atau contoh lain jika dimasa kecilnya selalu ditakut-takuti buaya, melihat cicak yang memiliki kemiripan dengan buaya pasti sudah mampu membuatnya takut.

Kasus yang cukup parah adalah seoarang anak yang secara tak sengaja menyaksikan kilatan petir di siang hari diiringi suara yang menggelegar sehingga membuatnya terkejut bukan kepalang. Apa akibatnya? Dia takut pada suasana siang hari. Anak itu meminta orang tuanya untuk menutup rapat jendela sekaligus gordennya serta tak boleh ada nyala lampu di rumahnya. Si anak justru senang pada suasana gelap karena dia beranggapan jika gelap gulita takkan ada petir. Dampak yang paling parah, sepanjang hari dia terus menutup telinganya meskipun tak ada mendung atau hujan yang rawan muncul petir bersahutan. "Generalisasinya bisa sangat luas,". Bagi anak yang takut dokter, perasaan ini dapat tergeneralisasi pada hal-hal lain yang memang masih berhubungan. Umpamanya, melihat orang yang berbaju putih saja dia akan ketakutan. Atau ketika mendengar orang yang menyebutkan kata "dokter", ia langsung berdebar-debar meski tak ada sangkut paut dengan dirinya. Tak heran begitu masuk ruang periksa atau bertemu dengan dokter dalam sosok yang nyata, pastilah dia menjerit-jerit dan menangis ketakutan.

Peran Aktif Orangtua
Menurut literatur, anak usia prasekolah mulai mengetahui sesuatu atau sosok yang menakutkan dari buku-buku cerita seperti dongeng atau melalui video, film kartun dan tayangan televisi lainnya yang bertubi-tubi. Misalnya sajian bertopik kriminalitas atau kisah-kisah bernuansa misteri/hantu.
Kebiasaan menakuti-nakuti anak sudah saatnya ditinggalkan. Mestinya orang tua menyadari efek berkepanjangan yang bisa ditimbulkan. Kalaupun anak susah diatur, takada salahnya mencari cara lain yang lebih bijak. Yang pasti, jangan sampai mengusik rasa aman dan nyaman si prasekolah. Orang tua juga seyogyanya menjadi sosok teladan bagi si kecil. Artinya, bila ibu/bapak sendiri adalah seorang yang penakut, maka jangan heran bila sifat ini "menular" pada anak. Jadi, setakut apa pun, orang tua harus berupaya untuk tampil yakin dan tetap tenang, terutama ketika berada di hadapan anak.
Usaha lainnya adalah mencoba membangun sikap positif. Misalnya, memberikan penjelasan kepada anak bahwa sosok dokter itu baik hati dan pintar. Alhasil, rasa takut anak terhadap dokter, klinik, atau rumah sakit berangsur-angsur bisa terkikis bahkan lenyap.
Ada baiknya pula orang tua meluangkan waktu untuk mendengarkan dengan telinga dan hati, apa gerangan yang ditakutkan anak. Tentunya tak sekadar menyimak pembicaraan si kecil, berilah dukungan yang positif dan penjelasan yang menenangkan agar anak dapat mengatasi rasa takutnya.

CB Blogger Lab

▲
Top