Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Sunday, 4 May 2014

Tips menjaga dan membina hubungan baik

Membina hubungan yang baik antar sesama manusia, baik tetangga, keluarga maupun masyarakat Tentu sekitar merupakan hal yang wajib dan penying dilakukan semua insan. Hal ini tidak terlepas status kita sebagai makhluk sosial yang tidak mungkin dapat hidup sendirian tanpa bantuan orang lain. 


Berikut beberapa tips bagaimana membina suatu hubungan yang berlaku umum dalam kehidupan sehari-hari:

1. Belajar Menghargai

Pada dasarnya setiap orang ingin dihargai, tak peduli oarng berpangkat, kaya atau miskin, seagama atau tidak seagama, sesuku atau tidak sesuku, semuanya ingin dihargai dihargai secara proporsional dan manusiawi. Namun sayangnya, banyak juga diantara kita kurang menghargai hanya karena perbedaan-perbedaan tersebut. Padahal emnghargai orang lain bukannya memberi sesuatu barang ataupun hadiah yang memiliki nilai tertentu Satu hal cara menghargai orang lain ialah dengan menghargai dan menghormati pendapat orang lain. Nah jika pendapat kita ingin dihargai, tentu saja kita kita harus menghargai pendapat orang lain tersebut.
 Belajar Menghargai menghormati menolong agar hubungan baik terbina

2. Belajar Menghormati

Setiap orang selalu ingin dihormati, karena itu janganlah kita menghormati orang lain hanya karena pangkat, jabatan atau kekayaan semata. Hormati lah orang jika orang tersebut melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Perlu juga menghormati orang yang lebih maju dari kita.

3. Suka Menolong

Menolong merupakan perbuatan yang mulia, terlebih jika yang ditolong sedang kesulitan atau memang sangat membutuhkan bantuan. Membantu seseorang tidak harus dinilai dengan materi, bisa dengan tenaga, ide, gagasan dan bisa kita bantu dengan memberikan dorongan moril di saat teman sedang bersedih misalnya. Hal yang perlu diingat tentu saja kita jangan pernah berharap meminta pamrih atau balasan.

4. Memberikan Pujian

Saat kita melihat teman yang menunjukkan prestasi yang membanggakan tidak ada salahnya kita memberikan pujian dengan keikhlasan. Pujian harus sesuai dengan keadaanya, tanpa dibuat-buat, jangan seolah-olah kita memberikan pujian karena ada maunya alias ada apa-apanya. berikan pujian walau hanya dengan ucapan "Selamat ya, kamu berhasil" itu sudah merupakan cara paling mudah dalam memberikan pujian kepada orang lain.

5. Memberikan motivasi

Perjalanan hidup seseorang tidak selamanya berjalan mulus, ada kalanya seseorang mengalami musibah, putus asa atau patah semangat. Nah disinilah peran kita dalam memberikan motivasi. Memotivasi seseorang tujuannya agar rasa percaya dirinya kembali tumbuh.

6. Mengerti Keadaan

Sikap mau mengerti keadaan orang lain pada dasarnya sikap terpuji. sebab kesadaran seperti ini harus ditumbuhkan dari hati nurani. artinya kita harus menghindari sikap acuh tak acuh dan memandang seseorang tanpa pandang bulu.

Wednesday, 2 April 2014

Mengikis Sikap Emosional dalam Perkawinan

Mengikis Sikap Emosional dalam Perkawinan

Sikap emosional adalah hal yang kudrati bagi manusia. Setiap manusia memiliki emosi selama hayat masih dikandung badan. Untuk menciptakan langkah tepat, ada baiknya dengan melihat lebih dulu penyebab munculnya sikap emosional pada diri seseorang.

Pertama, sikap emosional muncul karena pengaruh orang sekitar yang juga bersikap emosional. Mislanya anak yang orangtuanya sering bersikap emosional akan cenderung untuk meniru. Tanpa disadari biasanya sikap seperti ini akan terbawa oleh si anak, dilingkungan kantor, sekolah, dan sebagianya. Karena itu tak heran kalau faktor keturunan kadang dijadikan rujukan dalam memahami kepribadian seseorang, ibarat pepatah "buah apel tak akan jauh jatuhnya dari pohonnya".

Kedua, adanya pengalaman buruk yang dialaminya. Misalanya gagal mencapai tujuan atau cita-cita atau melakukan kesalahan yang cukup merugikan. Latar belakang ini kerap menjadi pemicu munculnya sikap emosional dadakan, bila ada hal-hal yang menggangu.

Ketiga, ada pertentangan atau konflik lahir dan batin. Konflik lahiriah berkaitan dengan dengan orang lain yang dianggapnya tidak cocok atau tidak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan konflik batin muncul akibat kekecewaan pada diri sendiri, misalnya nasib jelek yang menimpa diri sendiri.

Keempat, kurang pergaulan membuat orang cenderung mudah emosional. Orang yang kurang bersosialisasi mudah tersinggung dan salah paham dalam menangkap maksud seseorang. Kerana kurang bergaul, wawasan menjadi sempit, padahal hidup itu dinamis dan terus berkembang.

Kelima, adanya kelainan kepribadian, misalnya sejak kecil mengidap penyakit mental sehingga sulit membedakan dan berfikir logis dan rasional, bila dianggap tegas salah tanggap dan menganggapnya sebuah kekerasan atau membentak.

Cara mengurangi sikap emosional

1. Belajar mandiri dan buka wawasan
Yang dimaksud disini adalah cobalah menarik diri dari lingkungan keluarga yang memang cenderung memiliki karakter emosional, misalnya dengan berbaur dan mencari lebih banyak teman di luar rumah. Selain itu perlu juga perluas wawasan dengan membaca buku

2. Menerima kenyataan yang ada
artinya, apapun yang terjadi dengan kehidupan terutama bila hal-hal buruk terjadi pada diri, cobalah menerima kenyataan tersebut dan anggaplah itu sebuah ujian kemudian mengambil hikmah dan manfaat dari suatu peristiwa buruk tersebut. Yang pasti kita perlu bersikap optimis dan selalu berfikir positif. Menutup diri dan berprasangka buruk hanya memperburuk situasi.

3. Belajar Kompromi

Bila kenyataan yang ada bahwa di hadapan Anda sekarang adalah lingkungan yang tidak menyenangkan, kenapa tidak mencoba untuk menerima kemudian berusaha memperbaikinya. Bila terjadi perselisihan dengan anggota keluarga, misalnya antara suami atau istri, atasi dengan serius dan langkah yang rasional yaitu dengan mencari titik temu penyebab munculnya pertentangan tadi.

4. Meminta saran dari orang terdekat.

Memang sulit jika suatu permasalahan keluarga kita utarakan kepada orang lain, namun demi kebaikan tentu saja ini perlu dilakukan. Cobalah untuk mencurahkan segala permasalahan kepada orang terdekat, misalnya sahabat dan tentu saja yang mudah dipercaya. Bisa saja dengan begini mereka mau memberikan pencerahan dan solusinya.

5. Minta bantuan Psikiater

Bila sikap emosional cenderung berlebihan tanpa diketahui sebab yang jelas, ada baiknya melibatkan pihak ketiga yang ahli dibidangnya, misalnya seorang psikiater. Bagi pasangan yang akan menikah, akan lebih baik bila bila masing-masing diri mengintrospeksi diri siapa yang cenderung bersikap emosional. Upaya ini untuk merupakan langkah untuk mengetahui siapa yang harus meredam diri jika suatu saat terjadi perselisihan.

Untuk mewujudkan hal ini memang bukan hal yang mudah, namun jika dilandasi semangat dan kesadaran diri, niscaya semua akan mudah dilaksanakan. Yang terpenting adalah kerendahan hati masing-masing untuk introspeksi diri.



CB Blogger Lab

▲
Top