Thursday, 27 November 2014

Antara Shelby dan Dijah Yellow



Ketika saya membaca berita mengenai Shelby, pemenang Miss Great Britain, entah mengapa saya langsung mengingat Dijah Yellow. Lho apa hubungannya dua perempuan dari benua yang berbeda ini. Kedua perempuan ini jelas berbeda dari berbagai perspektif. Namun satu hal yang sama adalah kedua perempuan ini sama-sama di-bully oleh media di negaranya masing-masing.

Di hampir semua kontes kecantikan, sang putri yang keluar sebagai pemenang biasanya dielu-elukan dan dipuja-puji oleh media dan setelahnya akan diperlakukan sebagai selebriti. Ternyata, hal itu tidak didapatkan oleh Shelby Tribble yang telah memenangi beberapa gelar kontes kecantikan sebelumnya. Media hiburan online terkenal Extra.cz dengan jelas mengatakan di headline-nya bahwa perempuan berusia 21 tahun itu tidak pantas menjadi pemenang ajang kecantikan se-Inggris Raya karena wajahnya yang jelek.

Dan setelah itulah saya langsung mengingat Dijah Yellow. Memang tak ada satu media di Indonesia ini yang dengan saklak mengatakan bahwa perempuan berusia 33 tahun ini buruk rupa. Namun jika Anda bersedia menonton tayangannya di Youtube, Anda pasti setuju bahwa ini adalah suatu tindakan bullying.

Perbedaan yang jelas pada kedua perempuan ini adalah Shelby memiliki kesadaran penuh bahwa dia adalah objek dari suatu bullying, sedangkan Dijah Yellow tidak memiliki kesadaran tersebut. Entah setengah atau benar-benar tidak sadar, dia bercerita bahwa dia pernah membuat artis papan atas Shelena Gomez cemburu akibat kedekatannya dengan Justin Bieber. Dia juga mengatakan bahwa dia telah dihubungi oleh sebuah agensi model dunia untuk menjadi salah satu angel Victoria Secret, yang nantinya akan berlenggak-lenggok satu panggung dengan Adriana Lima dan Alessandra Ambrosio. Wowwww…. Yang sangat disayangkan adalah ketika media melihat “kebohongan” ini sebagai sebuah nilai. Ramai-ramailah media mengundang perempuan ini untuk sengaja dibuat sebagai bahan tertawaan dan cibiran. Bahkan media pun tak segan-segan mem-peta-kompli Dijah Yellow dengan artis-artis papan atas. Ada artis yang menanggapinya dengan bijaksana. Ada juga yang menanggapinya dengan hinaan-hinaan yang tak kalah kasar. Pertanyaannya apakah media etis melakukan hal-hal tersebut? Namun sayangnya, jawaban etis atau tidak bukan lagi soal yang penting karena banyak pihak mendapatkan keuntungan dari tayangan tersebut. Masyarakat terhibur, rating media naik, artis pun laris manis. Hal yang sangat lumrah ketika Omas dibandingkan dengan Raisya atau Mpok Nori disandingkan dengan Sophia Latjuba. Daus Mini dan Mandra pun sering kali harus minder ketika nama Ariel Noah disebut.

Namun percayakah saudara-saudara jika kita membiarkan media “bergerak bebas” seperti ini, niscaya kita sedang membentuk generasi pem-bully. Jadi, tak heran jika kita sering mendengar anak-anak SD pun sudah pandai mem-bully. Mau sampai kapan kita akan seperti ini? Media tolong hentikan tindakan bullying sekarang juga. Cerdaskan kehidupan bangsa dengan tayangan yang cerdas dan kreatif.

CB Blogger Lab


Top