Wednesday, 2 April 2014

Mengikis Sikap Emosional dalam Perkawinan

Sikap emosional adalah hal yang kudrati bagi manusia. Setiap manusia memiliki emosi selama hayat masih dikandung badan. Untuk menciptakan langkah tepat, ada baiknya dengan melihat lebih dulu penyebab munculnya sikap emosional pada diri seseorang.

Pertama, sikap emosional muncul karena pengaruh orang sekitar yang juga bersikap emosional. Mislanya anak yang orangtuanya sering bersikap emosional akan cenderung untuk meniru. Tanpa disadari biasanya sikap seperti ini akan terbawa oleh si anak, dilingkungan kantor, sekolah, dan sebagianya. Karena itu tak heran kalau faktor keturunan kadang dijadikan rujukan dalam memahami kepribadian seseorang, ibarat pepatah "buah apel tak akan jauh jatuhnya dari pohonnya".

Kedua, adanya pengalaman buruk yang dialaminya. Misalanya gagal mencapai tujuan atau cita-cita atau melakukan kesalahan yang cukup merugikan. Latar belakang ini kerap menjadi pemicu munculnya sikap emosional dadakan, bila ada hal-hal yang menggangu.

Ketiga, ada pertentangan atau konflik lahir dan batin. Konflik lahiriah berkaitan dengan dengan orang lain yang dianggapnya tidak cocok atau tidak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan konflik batin muncul akibat kekecewaan pada diri sendiri, misalnya nasib jelek yang menimpa diri sendiri.

Keempat, kurang pergaulan membuat orang cenderung mudah emosional. Orang yang kurang bersosialisasi mudah tersinggung dan salah paham dalam menangkap maksud seseorang. Kerana kurang bergaul, wawasan menjadi sempit, padahal hidup itu dinamis dan terus berkembang.

Kelima, adanya kelainan kepribadian, misalnya sejak kecil mengidap penyakit mental sehingga sulit membedakan dan berfikir logis dan rasional, bila dianggap tegas salah tanggap dan menganggapnya sebuah kekerasan atau membentak.

Cara mengurangi sikap emosional

1. Belajar mandiri dan buka wawasan
Yang dimaksud disini adalah cobalah menarik diri dari lingkungan keluarga yang memang cenderung memiliki karakter emosional, misalnya dengan berbaur dan mencari lebih banyak teman di luar rumah. Selain itu perlu juga perluas wawasan dengan membaca buku

2. Menerima kenyataan yang ada
artinya, apapun yang terjadi dengan kehidupan terutama bila hal-hal buruk terjadi pada diri, cobalah menerima kenyataan tersebut dan anggaplah itu sebuah ujian kemudian mengambil hikmah dan manfaat dari suatu peristiwa buruk tersebut. Yang pasti kita perlu bersikap optimis dan selalu berfikir positif. Menutup diri dan berprasangka buruk hanya memperburuk situasi.

3. Belajar Kompromi

Bila kenyataan yang ada bahwa di hadapan Anda sekarang adalah lingkungan yang tidak menyenangkan, kenapa tidak mencoba untuk menerima kemudian berusaha memperbaikinya. Bila terjadi perselisihan dengan anggota keluarga, misalnya antara suami atau istri, atasi dengan serius dan langkah yang rasional yaitu dengan mencari titik temu penyebab munculnya pertentangan tadi.

4. Meminta saran dari orang terdekat.

Memang sulit jika suatu permasalahan keluarga kita utarakan kepada orang lain, namun demi kebaikan tentu saja ini perlu dilakukan. Cobalah untuk mencurahkan segala permasalahan kepada orang terdekat, misalnya sahabat dan tentu saja yang mudah dipercaya. Bisa saja dengan begini mereka mau memberikan pencerahan dan solusinya.

5. Minta bantuan Psikiater

Bila sikap emosional cenderung berlebihan tanpa diketahui sebab yang jelas, ada baiknya melibatkan pihak ketiga yang ahli dibidangnya, misalnya seorang psikiater. Bagi pasangan yang akan menikah, akan lebih baik bila bila masing-masing diri mengintrospeksi diri siapa yang cenderung bersikap emosional. Upaya ini untuk merupakan langkah untuk mengetahui siapa yang harus meredam diri jika suatu saat terjadi perselisihan.

Untuk mewujudkan hal ini memang bukan hal yang mudah, namun jika dilandasi semangat dan kesadaran diri, niscaya semua akan mudah dilaksanakan. Yang terpenting adalah kerendahan hati masing-masing untuk introspeksi diri.




CB Blogger Lab


Top